CONTOH dan PERBEDAAN ETIKA, MORAL, DAN NILAI
PERBEDAAN
ETIKA, MORAL, DAN NILAI
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Profesi Guru
Disusun oleh:
Ja’far
Shadiq (15170012)
Hindun
Maisaroh (15170033)
Faizul
Ghufron (15170036)
Dosen Pengampu:
M. FAHIM THARABA,M.Pd.
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam karena dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
makalah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.
Tidak lupa juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
Bapak M. Fahim Tharaba, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan
Profesi Guru, yang telah memberikan tugas dan dukungan dalam menyelesaikan
makalah ini dan kepada segala pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini. Semoga makalah ini bisa membantu bagi siapa saja yang membutuhkan
pengetahuan tentang “Pendidikan Profesi Guru”.
Namun makalah ini mungkin terdapat beberapa kekurangan. Oleh sebab
itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk
menyempurnakan makalah ini.
Malang, 05 Februari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................... ......... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4
3. Tujuan ........................................................................................................ 4
B. PEMBAHASAN
1.
Perbedaan Etika, Moral dan Nilai............................................................. 5
2.
Contoh dari Etika, Moral dan Nilai................................................. ......... 12
C.KESIMPULAN ............................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
adalah makhluk yang memiliki multi dimensi, sehingga potret terhadap diri
manusia tidak dapat dipandang dari satu sudut pandang saja. Oleh karena itu,
perlu adanya penyelaman lebih dalam atau memahami eksistensi manusia lebih
filosofis tentang siapa, bagaimana, dan untuk apa manusia ada. Penyelaman
tersebut dimaksudkan untuk mengetahui peran dan keberadaannya sebagai manusia
di bumi ini.Suatu hal yang menarik perhatian bahwa manusia di samping sebagai
makhluk yang unik dan sebagai makhluk berbudaya, manusia juga disebut sebagai
makhluk sosial.[1]Makhluk
sosial yang dimaksud adalah makhluk yang senantiasa membutuhkan kehadiran orang
lain. Sebagai makhluk sosial tentunya ia memerlukan harmoni sosial atau
perdamaian di antara sesama manusia, sehingga dengan harmonisasi sosial itu
dapat mewujudkan nilai-nilai keshalehan sosial.
Tanpa
adanya orang lain, manusia tidak akan pernah menjadi manusia. Manusia akan
menjadi manusia juga tergantung dengan siapa ia hidup bermasyarakat. Dan dalam
membangun harmonisasi sosial itu, manusia dalam pergaulannya dengan masyarakat
akan melahirkan suatu norma-norma serta nilai yang disepakati oleh masyarakat
tertentu sebagai kebaikan atau keburukan dalam kehidupannya. Oleh karenanya
manusia perlu untuk melakukan kerjasama demi mewujudkan cita-citanya itu perlu
adanya sikap yang mencerminkan pentingnya jalinan komunikasi dan perilaku yang
baik antar sesamanya.Demikian hal ini dapat dikatakan dengan istilah etika
sosial, moral, akhlak dan nilai sosial. Akan tetapi dalam beberapa istilah
tersebut terdapat beberapa perbedaan yang signifikan, meskipun secara sepintas
kita mengartikan hakikatnya adalah sama atau tidak jauh berbeda.
Terlepas
perbedaan makna antara etika, moral, akhlak dan nilai tersebut, lantas kemudian
yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah “apa yang menjadi standar
etika, moral, akhlak, dan nilai tersebut?”. Tentunya dalam perbuatan ataupun
perilaku yang manusia lakukan itu bisa jadi dilandaskan pada moral, etika
seperti menghargai pendapat orang lain.
Dalam
akhlak islamiyah, untuk mencapai derajat sesuatu itu dapat dikatakan baik, maka
harus memiliki tujuan baik juga dilakukan dengan jalan yang baik dan
benar.Sebab adanya garis yang seperti itu dapat dibedakan dengan jelas antara
mana yang hak dan mana yang bathil.Sehingga kedudukan akhlak, etika, atau moral
sekalipun menjadi penting perannya, mengingat ketiganya adalah bentuk
nilai-nilai yang berlaku dan mengikat pada manusia sebagai makhluk individu,
sosial, dan makhluk spiritual dalam menjalani kehidupannya.
Perbuatan-perbuatan
manusia baik yang bersifat alami ataupun etis tersebut, dapat kita kaitkan pula
dengan persoalan pendidikan. Kendati pun etika, moral, akhlak dan nilai
merupakan bagian dari pendidikan, dalam pengertian bahwa perolehan etika harus
melalui proses pendidikan dan pembiasaan.[2] Sebagaimana
yang telah disebutkan di atas, bahwa sebagai makhluk berbudaya yang mewarisi
nilai-nilai sosial tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya, manusia
dimungkikan untuk mempergunakan sikap atau perilakunya itu untuk menjaga
keharmonisan sosial dengan memilih etika, moral, atau akhlak yang benar dan
tepat agar nilai-nilai sosial manusia sebagai makhluk berbudaya dapat terus
terjaga. Dan untuk memahami lebih dalam tentang pergaulan manusia yang
senantiasa membawa etika, moral maupun akhlak dalam kehidupan sosial ini,
berikut akan dipaparkan istilah-istilah yang mungkin berbeda tetapi konsepnya
sama, atau sebaliknya istilahnya sama tetapi justru konsepnya berbeda
tergantung sudut pandang mana yang hendak digunakan.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari bersikap. Namun sikap disini
banyak sisi, dalam artian bersikap baik atau kurang baik. Sikap manusia dapat
terlihat pada etika, moral dan nilai yang dilakukan. Ketiga kata ini memiliki
makna yang berbeda, mungkin kita sering mendengar ketiga istilah diatas,
apalagi dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Di setiap sub mata pelajaran
tersebut pasti ada bagian yang menjelaskan tentang sikap kita sebagai warga
Negara Indonesia. Baik dalam bersikap dilingkungan keluarga hingga dilingkungan
masyarakat.
Ketiga istilah ini, yang diangkat menjadi sebuah pembahasan dalam makalah
ini yaitu etika, moral dan nilai memiliki hubungan yang saling berkaitan. Kata yang cukup dekat dengan etika adalah moral. Kata ini berasal
dari bahasa latin mos (jamak: mores) yang juga berarti kebiasaan, adat.
Dalam bahasa inggris dan banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia, kata
etika sama dengan kata moral, karena keduannya berasal dari kata yang berarti
adat kebiasaan. Hanya bahasa asalnya yang berbeda, yang pertama berasal dari
bahasa Yunani, sedangkan yang kedua dari bahasa latin.[3]
Dalam pembahasan ini kata etika, moral dan nilai akan penulis coba uraikan segi
apa saja perbedaan antara ketiga kata tersebut, karena memang ketiga kata
tersebut memiliki hubungan makna yang saling berkesinambungan.
Timbulnya
kesadaran etika,moral dan nilai dan pendirian manusia terhadap aturan adalah pangkalan yang menetukan corak hidup
manusia. Etika.nila atau moral, kesusilaan dan kesopanan adalah pola tindakan
yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap
perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya
hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah
menentang kesadaran itu. Kesadaran hal-hal diatas adalah kesadaran manusia
tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri
sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan halal dan haram,
hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan.
Itulah hal yang khusus manusiawi.[4]
Dari uraian diatas, istilah etika, moral dan nilai merupakan kata yang dapat
memberikan makna untuk manusia bertindak sebagai semsetinya, dengan melakukan
hal yang benar atau yang salah, dengan begitu perbedaan yang dimiliki ketiga
istilah tersebut perlu penulis jelaskan dengan makna-makna yang akan dipaparkan
pada pembahasan ini. Karena kurangnya pemahaman penggunaan makna dari ketiga
istilah tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah perbedaan etika, moral dan nilai?
2.
Apa sajakah contoh dari etika, moral dan
nilai dalam kehidupan sehari-hari?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui perbedaan etika, moral dan
nilai.
2.
Mengetahui contoh dari etika, moral dan
nilai dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Perbedaan Etika, Moral dan
Nilai
a.
Etika
Etika (Etimologik), menurut
Bertens, berasal dari kata Yunani ethos yang berarti watak kesusilaan atau
adat. Etika identik dengan kata moral yang berasal dari kata latin mos, yang
dalam bentuk jamaknya mores yang juga berarti adat atau cara hidup. Etika dan
moral sama artinya, namun dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan,
moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan
etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Kemudian istilah
etis menurut Franz Magnis Suseno adalah sesuai dengan tanggung jawab moral.
Istilah ini digunakan untuk mengambil sikap yang wajar dalam suasana pluralism
moral yang merupakan ciri khas zaman sekarang.[5]
Istilah lain yang identik dengan etika
adalah:
1)
Susila (Sansekerta), yang lebih menunjuk
kepada dasar, prinsip, aturan hidup (atau sila) yang lebih baik.
2)
Akhlak (Arab) moral, berarti akhlak, etika
berarti ilmu akhlak.
Etika berkaitan dengan pemikiran dan cara sikap dalam kerangka
pemikiran, etika terdiri dari evaluasi masalah dan keputusan yang diprioritaskan
seseorang, misalnya anggota organisasi untuk menghindari akibat yang dapat
merugikan diri sendiri dan orang lain, sementara dalam pengertian perilaku,
etika erat hubungannya dengan keputusan yang sejalan dengan seperangkat pedoman
yang menyangkut perolehan yang mungkin dan akibat yang merugikan orang lain.[6]
Etika dimulai bila manusia merefleksikan
unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi
itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang
berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk
mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Bagi para sosiolog, etika adalah adat, kebiasan dan perilaku
orang-orang dari lingkungan budaya tertentu.[7] Di
lain hal para cendekiawan tradisional pun berasumsi bahwa yang disebut dengan
etika adalah perbuatan-perbuatan yang baik, sebaliknya, perbuatan-perbuatan
yang buruk tidak termasuk dalam etika.
Namun bagi Imanuel Kant yang disebut dengan etika adalah sesuatu
yang mutlak dilakukan bukan karena apapun tetapi hanya sebatas perbuatan itu
saja, karena perbuatan itu muncul dari intuisi manusia yang berupa
perintah-perintah, dimana setiap pekerjaan yang dilakukan adalah tugas dari
intuisi pelaksanaan yang kemudian melahirkan etika. Kant berkeyakinan bahwa
setiap perbuatan muncul dari intuisi adalah etika, sedangkan perbuatan yang
dilakukan karena suatu tujuan tertentu atau tidak termasuk intuisi bukanlah
etika.Teori Kant ini kemudian dikenal dengan Intuisi.
Dari penjelasan sebelumnya kita dapat memahami makna etika yang
secara garis besar merupakan perbuatan-perbuatan atau sikap yang dilakukan
manusia bukan berdasarkan ego pribadi yang bersumber pada kebudayaan. Etika
adalah salah satu kaidah untuk menjaga terjalinnya interaksi antara manusia
yang satu dengan yang lain secara wajar. Selain itu pula, etika sering
diartikan sebagai norma-norma kepantasan (etiket), yakni seperti apa yang ada
di dalam bahasa Arab adalah adab atau tata krama. Nilai etis di sini tidak
dimaksudkan sekedar sebagai sesuatu yang mengisyaratkan masalah kesopanan semata,
melainkan dalam pengertiannya sebagai pangkal pandangan hidup tentang baik dan
buruk, serta benar dan salah.oleh karena itu, ajaran tentang etika dalam makna
yang luas mencakup tentang keseluruhan pandangan dunia dan pandangan hidup.
Dari khazanah sosial pun lahir konsep-konsep etika semisal etika bisnis, etika
politik, etika kedokteran, etika pendidikan atau keguruan, dan lain sebagainya.
Etika merupakan cabang ilmu dari filsafat. Etika mencari kebenaran,
dan sebagai filsafat, etika menerima keterangan (benar) yang sedalam-dalamnya.
Tugas tertentu bagi etika, yaitu mencari ukuran baik-buruknya tingkah laku
manusia. Etika hendak mencari, tindakan manusia “manakah yang baik”.[8]
Dari uraian materi yang telah dipaparkan diatas, penulis mengatakan bahwa hakikatnya
manusia telah diciptakan di dunia dengan hakikat segala hal itu mengandung hal
yang baik atau buruk. Maka dari itu untuk menentukan segala sesuatu yang
dilakukan oleh manusia itu baik atau buruk, maka diperlukanlah sebuah etika,
moral dan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Pada kutipan yang materi yang
telah disampaikan diatas, dalam kalimat “Etika dan moral sama artinya, namun
dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan, moral atau moralitas dipakai
untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian
sistem nilai-nilai yang ada”. Pada kutipan materi dari buku karangan Heru
Santosan ini, penulis menangkap bahwasanya, memang dasar dari ketiga kata
etika, moral dan nilai memiliki banyak kesamaan, namun disini terdapat perbedaan
dalam penggunaannya, yaitu:
1)
Moral atau moralitas dipakai untuk
perbuatan yang sedang dinilai.
2)
Etika dipakai untuk pengkajian sistem
nilai-nilai yang ada.
Dari pembahasan yang telah dipaparkan, ada dua segi perbedaan pada
kata etika dan moral, yang disisi lain dari segi bahasa, disini ditemukan dalam
segi penggunaannya. Dapat dicontohkan sebagai berikut:
Ketika seseorang yang diduga memiliki kejujuran tetapi ternyata ia
melakukan praktik korupsi, maka dengan serta merta masyarakat menuduh dirinya
sebagai orang yang tidak jujur (sanksi sebagai pertanggungjawaban sosial).
Tetapi untuk kejujujuran sebagai nilai sangat mungkin ia yakini baik dan
penting bagi dirinya, namun tertangguhkan dulu untuk sementara waktu. Untuk
itu, niali dapat berada pada wilayah pra-moral yang sewaktu-waktu ditangguhkan
oleh perilaku moral.
Dari contoh yang telah dipaparkan diatas, dapat diambil dari segi
perbedaannya yaitu, etika yang dilakukan oleh pelaku merupakan etika yang tidak
baik yaitu pelaku tidak jujur terhadap kepercayaan yang diberikan sehingga
pelaku menyimpang dari etika yaitu dengan cara korupsi, sedangkan moral
perbuatan yang sedang dinilai yaitu korupsi yang dilakukan pelaku.
b.
Moral
Istilah lainnya yang memiliki konotasi makna dengan etika adalah
moral. Kata moral dalam bahasa Indonesia berasal dari kata bahasa asing mores yang berarti kebiasaan. Kata mores ini mempunyai sinonim mos, moris, manner mores, atau manners, morals.Kata moral berarti
akhlak atau kesusialaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata
tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup.
Sedangkan kata moral ini dalam bahasa Yunani sama dengan ethos yang menjadi etika.
Moral dalam bahasa Inggris dapat diartikan sebagai dorongan dalam
diri seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang berkaitan
dengan etika.Moralitas dilandasi atas nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh
seseorang atau organisasi tertentu sebagai sesuatu yang baik atau buruk,
sehingga bisa membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak patut
untuk dilakukan, di sisi lain, konsepsi moralitas dimaksudkan untuk menentukan
sampai sejauh mana seseorang memiliki dorongan untuk melakukan tindakan sesuai
dengan prinsip-prinsip etikamoral.Pada dasarnya dalam diri setiap orang ada
dorongan untuk mencari kebenaran. Perbedaannya adalah pada kadar kuat tidaknya
dorongan tersebut.[9]
Sebelumnya kita harus membedakan terlebih dahulu antara etika dan
moral. Menurut Berten, etika adalah tata susila atau tindakan yang mengandung
nilai-nilai moral, sedang moral itu sendiri adalah nilai-nilai yang berkenaan
dengan baik dan buruk yang menjadi pedoman dari tindakan etik. Tegasnya etika
lebih merupakan fleksi filosofis dari moral.Jadi etika lebih merupakan wacana
normatif yang relatif, sedang moral merupakan wacana normatif dan imperatif
yang diungkapkan dalam kerangka baik dan buruk yang dianggap sebagai nilai
mutlak dan transenden. Moral menjawab apa yang harus dilakukan, sedangkan etika
menjawab bagaimana hidup yang baik.
Selain konotasi maknanya dekat dengan etika, kata moral selalu
diidentikkan dengan akhlak, tetapi tekanannya pada sikap seseorang terhadap
nilai baik buruk, sehingga moral sering dihubungkan dengan kesusilaan atau
perilaku susila.Jika etika masih ada dalam tataran konsep maka moral sudah ada
pada tataran terapan. Seorang cendekiawan tetapi berbisnis kotor, maka ia
disebut cendekiawan yang moralnya rendah. Seorang politisi yang tahan terhadap
godaan uang politik disebut politisi yang bermoral tinggi.
Masalah moral tak bisa dilepaskan dengan
tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan
terlebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian
moral.[10] Dalam kutipan tulisan yang diambil oleh penulis,
dikatakan bahwasanya tekad tidak bisa menjadikan segala suatu hal itu menjadi
suatu kebenaran, maka dizaman dahulu para ilmuwan tidak hanyak membesarkan
tekadnya untuk meraih suatu kebenaran, namun tetap menjadikan moral sebagai
landsan untuk mencapainya. Karena hakikatnya manusia diciptakan dalam keadaan
yang suci yang tidak memiliki salah, namun dengan berjalannya waktu, hingga
manusia tumbuh menjadi sosok yang belajar hingga berilmu, maka disini kebebran atau
kesalahan yang akan diperbuat oleh manusia. Jadi antara etika dan moral
memiliki keterkaitan yang akan menjadikan suatu nilai yang dapat diambil.
Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak
orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit.
Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus
memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai
ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap
moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah
laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila yang dilakukan
seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan
dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu
dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk
dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda
sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
c.
Nilai
Bagi manusia nilai berfungsi sebagai suatu landasan, alasan, atau
motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup
seseorang dalam masyarakat. Perilaku seseorang sebagaimana diketahui merupakan
cerminan dari nilai-nilai yang dianut oleh orang tersebut.Nilai-nilai yang
diyakini oleh setiap individu yang mendasarinya untuk melakukan suatu tindakan
atau tidak melakukan suatu tindakan.Nilai-nilai itu pula yang mendorong manusia
dan memiliki semangat untuk melakukan hal yang baik ataupun hal yang buruk.
Seseorang akan melakukan suatu tindakan apabila dia yakin bahwa tindakannya
benar atau tidak akan melakukan suatu tindakan yang dianggapnya itu salah, baik
menurut nilai-nilai yang dianutnya ataupun nilai-nilai yang ada dalam
lingkungan masyarakat tempatnya tinggal.
Nilai merupakan kata yang mengandung makna
yang banyak disandingkan dengan bebrapa tindakan, baik itu fakta, norma dan
nilai dapat disandingkan dengan moral. Dilihat dari segi etimologis kat moral
berasal dari bahasa latin moralis yang berarti adat kebiasaan atau cara hidup.
Kata lain yang memiliki arti yang sama dengan moral adalah etika yang berasal
dari bahasa Yunani ethos. Lalu apa perbedaan antara nilai dengan moral atau
etika? Untuk menjawab pertanyaan itu ada baiknya lingkup nilai dibatasi pada
konteks makna yang terkait dengan dengan moral. Hal ini perlu diungkapkan
disini karena nilai pada umumnya dapat mencakup tiga wilayah, yaitu nilai
intelektual (benar-salah), nilai estetika (indah tidaknya) dan nilai etika
(baik buruknya). Nilai dalam kategori terakhir adalah nilai yang hendak
dijelaskan lebih jauh perbedaannya dengan moral, mengingat dalam pengertian
itulah kekaburan perbedaan antara nilai dan moral dapat terjadi.[11] Dari kutipan teori diatas, penulis mengatakan nilai
bisa dikatakan sebagai titik akhir dari suatu tindakan yang dilakukan, karena
dalam suatu tindakan atau dalam artinya etika yang dilakukan mengandung nilai,
dalam arti nilai disini menjadi titik akhir atau kesimpulan yang didapatkan.
Makna nilai dalam moral atau etika disini terdapat di dalam makna tindakan
tresebut.
Permasalahan pokok yang terdapat dalam akhlak, etika ataupun moral
adalah tentang standar nilai kebaikan dan keburukan.Perbuatan baik ataupun
buruk yang dilakukan seseorang tanpa ada hubungannya dengan akhlak atau tabiatnya
adalah hanya bernilai perbuatan.Pada dasarnya kebaikan adalah sesuatu yang enak
dirasa, enak dipandang dan memberikan manfaat.
d.
Perbedaan dalam Hubungan Akhlak, Moral, Etika dan Nilai
Dari paparan uraian konsep diatas, penulis meringkas pada perbedaan
antara akhlak, moral, etika dan nilai dapat dilihat dari berbagai segi, yang di
antaranya:
1)
Perbedaan
dari sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk
Jika didalam etika, penilaian baik dan buruk berdasarkan pada
pemikiran yang mendalam secara filosofis.Artinya baik buruknya suatu etika
dilihat dari pertimbangan akal pikiran manusia atau tolak ukur yang digunakan
adalah pikiran.
Penilaian baik dan buruk pada moral dapat dilihat berdasarkan pada
kebiasaan yang berlaku umum dimasyarakat yang ditinggalinya. Maknanya setiap
tindakan baik ataupun buruk di nilai dari norma yang berlaku.
Sedangkan penilaian baik dan buruk di dalam akhlak ukuran yang
digunakan adalah Al-Qur’an dan hadist yang tidak dapat ditawar lagi.Al-Qur’an
dan hadist telah terperinci menetapkan baik dan buruk mengenai suatu akhlak,
sehingga setiap tindakan manusia telah ada jalan dan alur nya yang benar.
Kemudian baik dan buruk suatu perbuatan menurut nilai adalah ketika
perbuatan itu telah dilakukan.Maka setelah perbuatan itu dilakukan dapat
dinilai baik buruknya suatu tindakan.[12]
2)
Perbedaan
dari letak atau cakupan setiap bagian.
|
|
Nilai
Akhlak
Moral
Etika
Perbedaan dari setiap cakupan maknanya adalah dimulai dari etika.
Etika adalah tindakan serta perbuatan manusia atau tata cara diri dalam
menanggapi suatu keadaaan. Dari etika ini kemudian muncul moral setiap individu
yang nampak akibat dari etika atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya.Di
dalam moral setiap individu ini kemudian muncul akhlak yang membedakan setiap
baik atau buruknya perbuatan.Dan semua bentuk tindakan tersebut dapat terlihat
nilai dari tindakan itu sendiri.
2.
Contoh dari Etika, Moral dan Nilai
Didalam
kehidupan sehari-hari pasti kita sebagai manusia yang hakikatnya adalah mahkluk
yang memiliki dasar baik buruk dalam melakukan suatu tindakan, pastilah banyak
tindakan yang menjadi wujud dari etika, moral dan nilai, yang mungkin tanpa
disadarai dalam pemakaian atau pemkanaan sering kita menganggap sama. Adapun beberapa contoh dari etika, moral dan nilai
adalah sebagai berikut:
a) Ketika seseorang yang diduga memiliki kejujuran tetapi ternyata ia
melakukan praktik korupsi, maka dengan serta merta masyarakat menuduh dirinya
sebagai orang yang tidak jujur (sanksi sebagai pertanggungjawaban sosial). Tetapi
untuk kejujujuran sebagai nilai sangat mungkin ia yakini baik dan penting bagi
dirinya, namun tertangguhkan dulu untuk sementara waktu. Untuk itu, niali dapat
berada pada wilayah pra-moral yang sewaktu-waktu ditangguhkan oleh perilaku
moral.[13]
b) Ketika kita menemukan tas yang berisikan dokumen penting dan juga
sejumlah uang yang terdapat dalam tas tersebut. Seandainya kita memiliki moral
yang baik maka kita akan memberikan tas itu kepada pemiliknya atau kalau tidak
pada yang berwajib.
c) Dalam lingkungan sekolah, guru memiliki kode etik yang harus dimiliki
oleh seorang guru, yang telah diatur oleh pemerintah pusat. Dan bisa diambil
juga dari prinsip” ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karsa, tut wuri
handayani”.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Perbedaan Etika, Moral, dan Nilai
a)
Perbedaan
dari sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk
Jika
didalam etika, penilaian baik dan buruk berdasarkan pada pemikiran yang
mendalam secara filosofis.Artinya baik buruknya suatu etika dilihat dari pertimbangan
akal pikiran manusia atau tolak ukur yang digunakan adalah pikiran.
Penilaian
baik dan buruk pada moral dapat dilihat berdasarkan pada kebiasaan yang berlaku
umum dimasyarakat yang ditinggalinya. Maknanya setiap tindakan baik ataupun
buruk di nilai dari norma yang berlaku.
Sedangkan
penilaian baik dan buruk di dalam akhlak ukuran yang digunakan adalah Al-Qur’an
dan hadist yang tidak dapat ditawar lagi.Al-Qur’an dan hadist telah terperinci
menetapkan baik dan buruk mengenai suatu akhlak, sehingga setiap tindakan
manusia telah ada jalan dan alur nya yang benar.
Kemudian
baik dan buruk suatu perbuatan menurut nilai adalah ketika perbuatan itu telah
dilakukan.Maka setelah perbuatan itu dilakukan dapat dinilai baik buruknya
suatu tindakan.
b)
Perbedaan
dari letak atau cakupan setiap bagian.
|
|
Nilai
Akhlak
Moral
Etika
Perbedaan dari
setiap cakupan maknanya adalah dimulai dari etika. Etika adalah tindakan serta
perbuatan manusia atau tata cara diri dalam menanggapi suatu keadaaan. Dari
etika ini kemudian muncul moral setiap individu yang nampak akibat dari etika
atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya.Di dalam moral setiap individu
ini kemudian muncul akhlak yang membedakan setiap baik atau buruknya
perbuatan.Dan semua bentuk tindakan tersebut dapat terlihat nilai dari tindakan
itu sendiri.
c.
Pada
kutipan materi dari buku karangan Heru Santosan ini, penulis menangkap
bahwasanya, memang dasar dari ketiga kata etika, moral dan nilai memiliki
banyak kesamaan, namun disini terdapat perbedaan dalam penggunaannya,
yaitu:
a)
Moral
atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai.
b)
Etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
2.
Contoh dari etika, moral dan nilai
Ketika seseorang yang diduga memiliki kejujuran tetapi ternyata ia
melakukan praktik korupsi, maka dengan serta merta masyarakat menuduh dirinya
sebagai orang yang tidak jujur (sanksi sebagai pertanggungjawaban sosial). Tetapi untuk kejujujuran sebagai nilai
sangat mungkin ia yakini baik dan penting bagi dirinya, namun tertangguhkan
dulu untuk sementara waktu. Untuk itu, niali dapat berada pada wilayah
pra-moral yang sewaktu-waktu ditangguhkan oleh perilaku moral
DAFTAR PUSTAKA
Effendi Ridwan,
2017, Etika Profesi Guru, Bandung,
Alfabeta.
Elmubarok Zaim, 2008, Membumikan
Pendidikan Nilai, Bandung; Alfabeta.
Suriasumantri
Jujun S, 2007, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,Jakarta, Pustaka
Sinar Harapan.
Mubarok
Achmad,2009, Akhlak Manusia sebagai Konsep Pengembangan Karakter, Jakarta;
GMPAM-YPC-WAP.
Muthari
Murthada’,2011, Dasar-dasar Epimologi Pendidikan Islam, Jakarta, Shadra International Institue.
R.
Waine Pace san Don F, 2000, Komunikasi Organisasi; Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan, Cet. Pertama, Bandung; Remaja Rosda Karya.
Rohmat
Mulyana, 2004, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung, Alfabheta.
Santosa Heru,
2007, Etika dan Teknologi, Yogyakarta, Tiara Wacana.
Alfallahu,
Lintang, Perbedaan Etika, Moral dan Nilai, 2013.
Diakses pada hari Senin 05 Februari 2018, pukul. 15.38 WIB, pada
link, http://alfallahu.blogspot.co.id/2013/04/perbedaan-etikamoral-dan-nilai.html
[1] Achmad Mubarok, Akhlak
Manusia sebagai Konsep Pengembangan Karakter, Jakarta; GMPAM-YPC-WAP, 2009,
hal.3
[2] Murthada’ Muthari, Dasar-dasar
Epimologi Pendidikan Islam, Jakarta;
Shadra International Institue, 2011, hal. 67
[4] Alfallahu, Lintang, Perbedaan Etika, Moral dan Nilai, 2013, Diakses pada hari Senin 05 Februari 2018, pukul. 15.38 WIB,
pada link, http://alfallahu.blogspot.co.id/2013/04/perbedaan-etikamoral-dan-nilai.html
[6] R. Waine Pace san Don F, Komunikasi
Organisasi; Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan, Cet. Pertama,
Bandung; Remaja Rosda Karya, 2000, hal. 542
[7]
Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan
Nilai, Bandung; Alfabeta, 2008, hal.27
[10] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,
2007, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, hlm.235-236.
[12]https://bangkuliah.com/2017/11/14/perbedaan-akhlak-etika-moral-dan-etiket/,
diakses pada 10 februari 2018 pukul
11:13
Komentar
Posting Komentar